Industri 4.0: Cara Cerdas Rekrut Karyawan di Tengah Langkanya Keahlian

 In Artikel

Industri 4.0 membawa pro dan kontra terutama terkait dengan masalah tenaga kerja manusia. Keberadaan robot yang kian menjadi tak asing lagi di era ini menciptakan disrupsi yang tak terhindarkan dalam lanskap dunia tenaga kerja. Seiring dengan dengan kemunculan robot yang mengambil alih beberapa fungsi pekerjaan yang menyebabkan banyak karyawan kehilangan pekerjaan, beberapa fungsi pekerjaan baru yang belum pernah ada sebelumnya mulai bermunculan. Dengan kata lain, alih-alih menjadi ancaman bagi angkatan kerja, Industri 4.0 sebenarnya mengalokasikan mereka ke posisi pekerjaan baru.

Munculnya fungsi kerja baru ini menyebabkan perubahan lanskap tenaga kerja. Banyak tenaga kerja yang membutuhkan pekerjaan, banyak pula posisi baru yang membutuhkan tenaga kerja, tapi perusahaan kesulitan dalam merekrut karyawan yang tepat. Tantangan ini akan terjadi karena kelangkaan tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus. Fenomena kelangkaan ini yang disebut dengan skill gap.

Menurut studi skills gap 2018, yang dirilis oleh Deloitte dan The Manufacturing Institute, skills gap manufaktur yang melebar diperkirakan akan tumbuh dari sekitar 488.000 lowongan pekerjaan saat ini hingga sebanyak 2,4 juta pekerjaan manufaktur tak akan terisi antara tahun ini dan 2028. Untuk memitigasi dampak dari krisis skills gap perusahaan perlu mengubah secara radikal cara mereka merekrut karyawan.


Dari kualifikasi ke kapabilitas

Merekrut karyawan dengan penekanan pada kualifikasi berdasarkan tingkat pendidikan dan pengalaman tidak lagi relevan dalam lingkungan yang berubah dengan sangat cepat ini. Seiring makin lumrahnya kolaborasi antara robot dan manusia, posisi-posisi pekerjaan yang belum pernah ada sebelumnya tersebut menuntut para karyawan memiliki beberapa keahlian khusus dan karakter tertentu dalam satu waktu.

Contohnya, alih-alih mensyaratkan seorang akuntan berlatar pendidikan akunting dan berpengalaman, perekrut menekankan kandidat akunting yang memiliki karakter terbuka pada perubahan, proaktif menyelesaikan masalah, memiliki kemampuan analisa yang mumpuni untuk menganalisa data keuangan dan non-keuangan, dan memiliki bakat kepemimpinan yang menonjol.

Para perekrut perlu merespon perubahan tersebut dengan tidak sekadar melihat kandidat dari tingkat pendidikan dan pengalamannya, tapi lebih pada keterampilan yang dibutuhkan dan karakter yang cocok untuk mengisi posisi yang ditawarkan.


Mitigasi risiko

Di tengah kelangkaan tenaga kerja berkeahlian khusus dan risiko keamanan yang makin meningkat, upaya mitigasi risiko yang datang dari internal perusahaan menjadi hal yang makin krusial. Oleh karena itu, setelah menemukan potensial kandidat, perekrut perlu melakukan pre-employment screening yang ekstensif terhadap kandidat.

Kandidat tak hanya harus lulus pemeriksaan latar belakang, tetapi juga lulus tes berbasis keahlian yang disesuaikan untuk memvalidasi keahlian yang mereka klaim. Dengan melakukan pre-employment screening, perekrut dapat memperoleh informasi mengenai perilaku dan kinerja kandidat di tempat kerja sebelumnya dan memastikan bahwa informasi yang mereka klaim benar dan akurat.

Kesimpulannya, pernyataan bahwa robot membuat tenaga kerja manusia tidak lagi memiliki peran penting di industri 4.0 hanyalah sebuah mitos. Manusia sudah dan akan selalu menjadi pusat penggerak era industri apapun, tak terkecuali industri 4.0. Dengan demikian, pendekatan rekrutmen tenaga kerja manusia yang tepat sangat penting untuk memitigasi eksposur risiko dan tetap relevan di era industri yang terus berkembang ini.


Sumber:

https://www2.deloitte.com/us/en/pages/manufacturing/articles/future-of-manufacturing-skills-gap-study.html?id=us:2el:3pr:skillgap18:awa:er:111418



Recent Posts
Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Start typing and press Enter to search