Risiko Fraud Di Balik Potensi 3,4T Dolar AS Cross-border E-commerce

 In Artikel

Tren cross-border e-commerce sudah dimulai sejak akhir tahun 2017 dan akan terus menguat di tahun 2019 terutama setelah perwakilan-perwakilan negara ASEAN menandatangani kesepakatan kebijakan e-transaksi lintas batas pada November lalu pada ASEAN Summit and Related Summit di Singapura.

Accenture, konsultan teknologi dan bisnis memperkirakan ada lebih dari dua miliar e-shoppersbertransaksi secara lintas batas dengan kontribusi mencapai 13.5% dari total konsumsi ritel online global dan nilai pasar mencapai 3,4 triliun dolar AS pada tahun 2020.

Apa itu e-commerce lintas batas atau cross-border e-commerce? Pada dasarnya merupakan perdagangan internasional online antara sebuah bisnis (ritel atau brand) dan konsumen (B2C), antara dua bisnis (B2B), atau antar perorangan (C2C). Contohnya, di Indonesia dikenal istilah Jastipatau jasa titip melalui media sosial dan adanya platform e-commerce lintas batas, contohnya, Lazada yang menjual produk-produk impor Tiongkok.

Meskipun menawarkan peluang pasar yang luar biasa, tapi cross-border e-commerce membawa risiko fraud. Jika transaksi dalam satu wilayah negara saja membawa risiko fraud, apa lagi jika transaksi dilakukan antar negara yang membawa lebih banyak faktor risiko dan tentunya risiko kerugian lebih besar.

Pada dasarnya jenis fraud yang terjadi pada perdagangan online lintas batas tak berbeda dengan fraud pada umumnya,, beberapa contoh di antaranya payment fraud, identity fraud, dan counterfeit goods. Hanya saja e-commerce membutuhkan upaya lebih besar dalam memitigasi fraud yang terjadi pada perdagangan lintas batas lantaran setiap negara memiliki profil pasar yang berbeda; beberapa di antaranya yaitu potensi jumlah pasar, perilaku belanja dan sistem pembayaran yang disukai konsumen serta kebijakan perlindungan konsumen. Profil pasar yang berbeda artinya potensi risiko fraud pun berbeda. Oleh karena itu, e-commerce perlu mengetahui secara mendalam profil pasar negara target dan memahami kombinasi faktor risikonya.

Sebuah sistem pencegahan online fraud yang canggih di sebuah negara sekalipun, belum tentu bisa diaplikasikan di negara lainnya. Mungkin saja sebuah e-commerce di Tiongkok sudah mengimplementasikan sistem pengamanan transaksi kartu kredit yang layak, tapi apakah e-commerce tersebut sudah menyiapkan pengamanan untuk alternatif sistem pembayaran yang lain di negara target, katakanlah Cash On Delivery (COD)? Ada beberapa negara yang konsumennya masih lebih menyukai COD daripada kartu kredit, contohnya Indonesia – berdasarkan hasil riset iPrice tahun 2018 yang menyebutkan sebanyak 43 persen e-commerce masih menawarkan opsi pembayaran tersebut.

Lalu, bagaimana e-commerce bisa memutuskan metode mitigasi fraud yang tepat dengan mempertimbangkan kombinasi sekian banyak faktor risiko di sebuah negara ?

Pendekatan mitigasi fraud lintas batas yang dirasa paling efektif untuk pasar asing dan kompleks adalah dengan menggabungkan kecerdasan manusia dan teknologi. Solusi semacam ini terbilang komprehensif, dinamis dan berdasarkan pada data.

Tak bisa dipungkiri, data menjadi sumber kehidupan bagi setiap bisnis di era digital, termasuk dalam upaya bisnis memitigasi fraud. Teknologi berbasis kecerdasan buatan, mesin pembelajaran dan analisis prediktif membantu para analis mengumpulkan dan mengolah data dari faktor-faktor risiko tersebut menjadi informasi penting yang nantinya digunakan sebagai dasar acuan dalam memutuskan upaya mitigasi fraud yang tepat.



Sumber:
http://marketeers.com/cross-border-e-commerce-akan-jadi-tren-2019/ 
https://www.mytotalretail.com/article/managing-cross-border-ecommerce-fraud/ 


Recent Posts

Start typing and press Enter to search